29 Mei 2020 9:06 am

Duh, Amalan Orangtua Ternyata Berdampak terhadap Kesalehan Anak

Duh, Amalan Orangtua Ternyata Berdampak terhadap Kesalehan Anak
Ilustrasi - image from bukitgagasan.com
----------

Penulis : Ahmad Fa'iq | Sebuah Nasehat untuk Diri
.
.
Ayah dan Bunda, amalan kita ternyata berdampak besar terhadap sikap, akhlak, dan tingkah laku anak-anak.

Jika kita gemar melakukan amal saleh, anak pun akan menjadi saleh.

Sebaliknya, jika beramal buruk, dosa kita juga berpengaruh buruk ke buah hati.

Mengapa bisa seperti itu? Ternyata Allah memiliki alasan dibaliknya.

1. Adanya keberkahan dari amal saleh


Amal kebaikan yang dilakukan serang hamba, akan dibalas Allah dengan anugerah dan taufik-Nya.

Dengannya, Allah mudahkan semua urusan selama kita melakukan amal ketaatan.

Termasuk saat mendidik anak. Allah akan memberikan kemudahan dan keberkahan hingga kita dianugerahi anak-anak yang saleh dan salehah.

Sebaliknya, amal buruk atau dosa dan maksiat kita berakibat teguran dan bahkan azab.

Bentuknya bisa beragam.

Mungkin, Allah jadikan anak-anak bersifat buruk akibat maksiat yang kita lakukan. Yang terburuk ialah anak kita menyimpang dari jalan yang lurus. Na’udzubillah.

Semoga Allah melindungi kita dari hal-hal semacam itu.

2. Penjagaan dari Allah


Allah menjamin penjagaan luar biasa kepada anak-anak jika kita sebagai orangtua gemar melakukan amal saleh.

Penjagaan ini bahkan tak hanya kepada perilaku anak, tetapi juga mencakup segalanya, baik rezeki mereka, kesehatan mereka, dan lain sebagainya.

Penjagaan Allah tersebut diketahui dari kisah Nabi Musa 'alaihissalam dan Nabi Khidir 'alaihissalam yang termaktub dalam Al-Qur’an Al-Karim.

Allah memberi wahyu kepada Nabi Khidir 'alaihissalam untuk membereskan sebuah rumah milik anak yatim agar harta warisan mereka terjaga.

Allah menjaga anak-anak itu karena orangtua mereka adalah orang yang saleh dan taat kepada-Nya.

Adapun dinding rumah itu adalah milik dua orang anak yatim di kota. Di bawahnya ada harta benda simpanan untuk mereka berdua (berupa lembaran emas bertuliskan suatu ilmu). Ayah kedua anak tersebut adalah seorang yang saleh. Maka Tuhanmu menghendaki mengeluarkan simpanan itu ketika mereka sampai pada masa kedewasaannya, sebagai rahmat dari Tuhanmu.(Q.S. Al Kahfi: 82).

3. Hanya orang saleh yang doanya dikabulkan


Ayah dan bunda pasti selalu berdoa supaya anak-anak kita menjadi hamba yang saleh.

Namun, jika saat berdoa, raga dan jiwa kita berlumuran maksiat, apakah Allah akan mengabulkan?

Sebagaimana hadits dari Rasulullah ketika beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan seorang pria yang tengah safar, rambutnya kusut, lalu berdoa, “Ya Rabbi, ya Rabbi..” Nabiyullah lalu bersabda, “Makanannya haram, minumannya haram, bajunya haram, dan perutnya kenyang karena hal-hal haram. Maka, bagaimana mungkin Allah kabulkan doanya?(H.R. Muslim)

Subhanallah, padahal safar adalah salah satu waktu mustajab doa. Namun akibat maksiat, doa tersebut terhempas bak buih yang disapu ombak.

Ingatlah sabda nabi, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik.

4. Malaikat dan setan turut berperan


Jika kita gemar mendirikan shalat wajib dan sunnah, lalu mentadabburi ayat-ayat suci, membaca dzikir setiap waktu, malaikat akan turun ke keluarga kita.

Mereka akan memberikan ketenangan di rumah kita, melindungi dan mengusir segala gangguan setan.

Efeknya adalah perilaku positif pada buah hati kita.

Sebaliknya, jika kita enggan beribadah, enggan mengaji, enggan berdzikir, setan akan menjadi penguasa rumah kita.

Efek buruk itu tidak hanya diterima kita, tetapi juga anak-anak.

Setan akan selalu menggiring penghuni rumah untuk berbuat buruk dan maksiat, serta menghalangi masuknya malaikat rahmat. Na’udzibillah.

-------

Jadi, anak tidak akan berakhlak baik jika kita sebagai orangtuanya tak pernah shalat malam, selalu bangun subuh kesiangan, mengaji hanya di bulan Ramadhan, berdzikir hanya saat ingat, puasa sunah ogah-ogahan, shalat dan berdoa secepat kilat, sedekah hanya sebatas zakat, ke majelis ta’lim entah terakhir kapan.

Bagaimana mungkin kita berharap sang buah hati bisa menjadi hamba-Nya yang beriman dan bertakwa, jika kita menghabiskan banyak waktu untuk menonton ini dan itu, lebih banyak tidur ketimbang bermunajat di sepertiga malam, bekerja mencari rezeki tetapi lupa memperbaiki diri, bermain gadget hingga lupa waktu, larut dalam berita dan politik hingga menggosip dan mencela sesama muslim.

Maka, jika anak-anak berperangai buruk dan sulit dinasihati, sebaiknya kita melakukan introspeksi diri.

Sudahkan kita melakukan amalan ketaatan dengan ikhlas mengharap wajah-Nya dan sesuai dengan tuntunan rasul-Nya?

Sudahkah meninggalkan dosa dan maksiat yang dilarang agama?

Ayah dan Bunda, mari kita menjadi orangtua saleh, setelah itu barulah kita mengharapkan anak-anak yang saleh.
Blog Post Lainnya
Social Media
Hubungi Kami
0812-8586-8957
0812-8586-8957
cs@rmastore.id
Metode Pengiriman
Berita Newsletter
`Berlangganan
Brand
@2020 RMA Store Inc.